Rabu, 19 September 2012

Surat Berkelakuan Baik Kepolisian (SKCK)

Membuat Surat Berkelakuan Baik Kepolisian (SKCK)

1. Kekantor Kelurahan setempat:
    a. Membawa KTP yang bersangkutan (Pembuat SKCK)
    b. Membawa Kartu Keluarga (KK)
    c. Mengisi Blangko Di Kantor Kelurahan.
    d. Pas Foto berwarna terbaru 3x4 = 1 lbr

2. Setelah mendapat Surat Pengantar dari kelurahan selanjutnya ke kantor Kecamatan Setempat :
    a. Membawa Foto berwarna terbaru 3x4 sebanyak 1 lbr
    b. Biasanya ada uang adminitrasi (Pengalaman penulis Rp 15.000 ,- )

3. Selanjutnya Surat Pengantar di bawa ke kantor POLSEK setempat:
    a. Membawa foto copy KTP dan Kartu Keluarga (KK) masing-masing sebanyak 2 lembar
    b. Pas Foto berwarna 3x4 sebanyak 1 lbr
    c. Pas Foto berwarna 4x6 sebanyak 4 lbr
    d. SKCK Lama di lampirkan jika ada.
    e. Membayar Uang Adminitrasi Rp. 15.000 ,-

4. Kemudian surat pengantar dari Kantor POLSEK setempat di bawa ke Kantor POLRES setempat :
   a. Surat Pengantar di ajukan ke bagian PERIJINAN Polres setempat.
   b. Mengisi Blangko yang tersedia
   c. Jika belum mempunyai RUMUS Sidik Jari seharusnya membuat rumus sidik jari ke bagian PEMBUAT   rumus sidik jari di Polres Setempat.
  d. Pas foto berwarna 4x6 sebanyak 5 lembar
  e. Membayar Adminitrasi Rp 15.000 ,-
  f. Jika memerlukan Ligalisir, Foto copy SKCK yang sudah di tandatangani sebanyak 6 lembar

demikian langkah - langkah mengurus Surat Kelakuan Baik (SKCK) dari kepolisian setempat, semoga bermanfaat dan bisa membantu,

NB : Langkah-langkah diatas mungkin bisa berbeda di setiap daerah,,,

Selasa, 18 September 2012

Perihal: Permohonan Registrasi dan Surat Izin TENAGA KESEHATAN PERPANJANGAN

Perihal: Permohonan Registrasi dan Surat Izin TENAGA KESEHATAN PERPANJANGAN

Persyaratan memperpanjang SIP :
1. Foto kopi ijazah dan Transkrip nilai yang dilegalisir
2. Surat keterangan sehat dari Dokter Pemerintah.
3. Pas photo hitam putih terbaru 3x4=2 lembar, 4x6=2 lembar
4. Melampirkan registrasi dan Surat Ijin Tenaga Kesehatan lama yang asli
5. Pemohon perpanjangan 1 Minggu Sebelum Masa Berlaku Habis
6. Mengisi blangko yang tersedia di kantor P2T atau mintalah di sekretariat PPNI daerah domisili anda

Catatan:
1. Pemohon harus menulis dengan jelas dan lengkap disertai materai Rp. 6.000,00
2. Pemohon harus datang sendiri (Suami/Istri dapat diwakilkan salah satu nya asalkan dapat melampirkan Fotokopi  Buku nikah atau Surat Kuasa Bermaterai 6000.00)
3. Tulis dengan huruf  balok
4. Semua berkas-berkas di masukkan kedalam Map berwarna HIJAU
5. Map berwarna merah untuk Legalisir STR
6. Untuk Pindah Kerja (misal punya STR di Jawa Tengah sedangkan anda Bekerja di Jawa Timur), dapat di perpanjang asalakan melampirkan SK Pegawai (PNS) atau SK Kerja (Swasta) dimana anda bekerja mengetahui atasan / pimpinan.

Nb:
Info: Rekan-rekan saya,  bulan lalu sudah ke Surabaya untuk memperpanjang SIP, bahkan ada 1 teman yang SIP nya sudah mati 1 tahun, semua kesana TANPA TES dan TANPA BIAYA, cuma yang pengen legalisir STR TERBARU dipersilakan fotokopi dulu trus proses legalisir sekalian.





-->
DAFTAR ALAMAT PENTING

No
INSTANSI
ALAMAT
KETERANGAN
1
Kantor P2T (Pelayanan Perizinan Terpadu) Propinsi Jatim
Jl.Pahlawan 116
Surabaya, Jawa Timur 60172
031 3577691-
031 3577692
2
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
Jl. Ahmad Yani 118 Surabaya 60231
(031) 8280715 - 8280910  Fax. (031) 8290423
3
Sekretariat PPNI Jawa Timur
Ruko Gateway B-25 Waru Sidoarjo Jatim
0318546954
Fax 0318546955
ppni_jatim@yahoo.co.id
4
Kantor DPP PPNI (Pusat)
Jl. Jaya Mandala Raya No 15, Patra Kuningan
Jakarta. 12870
Phone : +62218315069
Fax   : +62218315070
dppppni@gmail.com

Sabtu, 11 Februari 2012

demam berdarah dengue


ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN DEMAM BERDARAH DENGUE

A.      PENGERTIAN

DHF adalah suatu  infeksi  arbovirus akut yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk spesies aides. Penyakit ini sering menyerang anak, remaja, dan dewasa yang ditandai dengan demam, nyeri otot dan sendi. Demam Berdarah Dengue sering disebut pula Dengue Haemoragic Fever (DHF).
Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh Arbovirus (Arthropodborn Virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk AEDES (AEDES ALBOPICTUS dan AEDES AEGEPTY).

B.       Tanda dan gejala.

1.         Meningkatnya suhu tubuh
2.         Nyeri pada otot seluruh tubuh
3.         Suara serak
4.         Batuk
5.         Epistaksis
6.         Disuria
7.         Nafsu makan menurun
8.         Muntah
9.         Ptekie
10.     Ekimosis
11.     Perdarahan gusi
12.     Muntah darah
13.     Hematuria masif
14.     Melena

C.      Klasifikasi Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF)

Klasifiksi DHF menurut WHO
1.         Derajat I
Demam disertai gejala tidak khas, terdapat manifestasi perdarahan (uji tourniquet positif)
2.         Derajat II
Derajat I ditambah gejala perdarahan spontan dikulit dan perdarahan lain.
3.         Derajat III
Kegagalan sirkulasi darah, nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (20 mmhg, kulit dingin, lembab, gelisah, hipotensi)
4.         Derajat IV
Nadi tak teraba, tekanan darah tak dapat diukur



D.      Pohon masalah.



 





















E.       Pemeriksaan Diagnostik

  1. Darah Lengkap = Hemokonsentrasi (Hemaokrit meningkat 20 % atau lebih), Thrombocitopeni (angka thrombosit 100. 000/ mmatau kurang)
  2. Serologi = Uji HI (hemaaglutinaion Inhibition Test)
  3. Rontgen Thorax = Effusi Pleura

F.       Penatalaksanaan Demam Berdarah

a.       Medik
1.    DHF tanpa Renjatan
1.    Beri minum banyak ( 1 ½ - 2 Liter / hari )
2.    Obat antipiretik, untuk menurunkan panas, dapat juga dilakukan kompres
3.    Jika kejang maka dapat diberi luminal ( anticonvulsan ) untuk anak <1 th dosis 50 mg IM dan untuk anak >1th 75 mg IM. Jika 15 menit kejang belum teratasi , beri lagi luminal dengan dosis 3 mg / Kg BB anak <1 th dan pada anak >1th diberikan 5 mg/ Kg BB.
4.    Berikan infus jika terus muntah dan hematokrit meningkat
2.    DHF dengan Renjatan
1.    Pasang infus RL
2.    Jika dengan infus tidak ada respon maka berikan plasma expander ( 20 – 30 ml/ kg BB )
3.    Tranfusi jika Hb dan Ht turun
b.      Keperawatan
1.    Pengawasan tanda – tanda Vital secara kontinue tiap jam
1.    Pemeriksaan Hb, Ht, Trombocyt tiap 4 Jam
2.    Observasi intike - output
3.    Pada pasien DHF derajat I : Pasien diistirahatkan, observasi tanda vital tiap 3 jam , periksa Hb, Ht, Thrombosit tiap 4 jam beri minum 1 ½ liter – 2 liter per hari, beri kompres
4.    Pada pasien DHF derajat II : Pengawasan tanda vital, pemeriksaan Hb, Ht, Thrombocyt, perhatikan gejala seperti nadi lemah, kecil dan cepat, tekanan darah menurun, anuria dan sakit perut, beri infus.
5.    Pada pasien DHF derajat III : Infus guyur, posisi semi fowler, beri O2 pengawasan tanda – tanda vital tiap 15 menit, pasang cateter, observasi produksi urine tiap jam, periksa Hb, Ht dan thrombocyt.
2.    Resiko Perdarahan
1.    Obsevasi perdarahan : Pteckie, Epistaksis, Hematomesis dan melena
2.    Catat banyak, warna dari perdarahan
3.    Pasang NGT pada pasien dengan perdarahan Tractus Gastro Intestinal
3.    Peningkatan suhu tubuh
1.    Observasi / Ukur suhu tubuh secara periodik
2.    Beri minum banyak
3.    Berikan kompres

G.      Asuhan Keperawatan

1.    Pengkajian
1.    Kaji riwayat Keperawatan
2.    Kaji adanya peningkatan suhu tubuh, tanda perdarahan, mual muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hai, nyeri otot dan tanda – tanda renjatan (denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab, terutama pada ekstremitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran)
2.    Diagnosa Keperawatan
1.    Kekurangan Volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler , perdarahan, muntah, dan demam
2.    Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan
3.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan
4.    Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus
5.    Perubahan proses proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak
3.    Implementasi
1.    Mencegah terjadinya kekurangan volume cairan
1.    Mengobservasi tanda – tanda vital paling sedikit setiap 4 jam
2.    Monitor tanda – tanda meningkatnya kekurangan cairan : turgor tidak elastis, ubun – ubun cekung, produksi urine menurun
3.    Mengobservasi dan mencatat intake dan output
4.    Memberikan hidrasi yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh
5.    Memonitor nilai laboratorium : elektrolit / darah, BJ urin , serum tubuh
6.    Mempertahankan intake dan output yang adekuat
7.    Memonitor dan mencatat berat badan
8.    Memonitor pemberian cairan melalui intra vena setiap jam
9.    Mengurangi kehilangan cairan yang tidak telihat (insesible water loss / IWL)
2.    Perfusi jaringan Adekuat
1.    Mengkaji dan mencatat tanda – tanda Vital (kualitas dan Frekwensi denyut nadi, tekanan darah , Capillary Refill )
2.    Mengkaji dan mencatat sirkulasi pada ekstremitas (suhu , kelembaban dan warna)
3.    Menilai kemungkinan terjadinya kematian jaringan pada ekstremitas seperti dingin , nyeri , pembengkakan kaki )
3.    Kebutuhan nutrisi adekuat
1.    Ijinkan anak memakan makanan yang dapat ditoleransi anak. Rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.
2.    Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi
3.    Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi sering
4.    Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama
5.    Mempertahankan kebersihan mulut pasien
6.    Menjelaskan pentingnya intake nutirisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit
4.    Mempertahankan suhu tubuh normal
1.    Ukur tanda – tanda vital suhu tubuh
2.    Ajarkan keluarga dalam pengukuran suhu
3.    Lakukan “ tapid sponge” (seka) dengan air biasa
4.    Tingkatkan intake cairan
5.    Berikan terapi untuk menurunkan suhu
5.    Mensupport koping keluarga Adaptif
1.    Mengkaji perasaan dan persepsi orang tua atau anggota keluarga terhadap situasi yang penuh stress
2.    Ijinkan orang tua dan keluarga untuk memberikan respon secara panjang lebar dan identifikasi faktor yang paling mencemaskan keluarga
3.    Identifikasikan koping yang biasa digunakan dan seberapa besar keberhasilannya dalam mengatasi keadaan




DAFTAR PUSTAKA


  1. Buku ajar IKA infeksi dan penyakit tropis IDAI Edisi I. Editor : Sumarmo, S Purwo Sudomo, Harry Gama, Sri rejeki Bag IKA FKUI jkt 2002.
  2. Christantie, Effendy. SKp, Perawatan Pasien DHF. Jakarta, EGC, 1995
  3. Prinsip – Prinsip Keperawatan Nancy Roper hal 269 – 267

 

Sabtu, 14 Januari 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DHF


ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN DEMAM BERDARAH DENGUE

A.      PENGERTIAN

DHF adalah suatu  infeksi  arbovirus akut yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk spesies aides. Penyakit ini sering menyerang anak, remaja, dan dewasa yang ditandai dengan demam, nyeri otot dan sendi. Demam Berdarah Dengue sering disebut pula Dengue Haemoragic Fever (DHF).
Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh Arbovirus (Arthropodborn Virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk AEDES (AEDES ALBOPICTUS dan AEDES AEGEPTY).

B.       Tanda dan gejala.

1.         Meningkatnya suhu tubuh
2.         Nyeri pada otot seluruh tubuh
3.         Suara serak
4.         Batuk
5.         Epistaksis
6.         Disuria
7.         Nafsu makan menurun
8.         Muntah
9.         Ptekie
10.     Ekimosis
11.     Perdarahan gusi
12.     Muntah darah
13.     Hematuria masif
14.     Melena

C.      Klasifikasi Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF)

Klasifiksi DHF menurut WHO
1.         Derajat I
Demam disertai gejala tidak khas, terdapat manifestasi perdarahan (uji tourniquet positif)
2.         Derajat II
Derajat I ditambah gejala perdarahan spontan dikulit dan perdarahan lain.
3.         Derajat III
Kegagalan sirkulasi darah, nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (20 mmhg, kulit dingin, lembab, gelisah, hipotensi)
4.         Derajat IV
Nadi tak teraba, tekanan darah tak dapat diukur



D.      Pohon masalah.



 





















E.       Pemeriksaan Diagnostik

  1. Darah Lengkap = Hemokonsentrasi (Hemaokrit meningkat 20 % atau lebih), Thrombocitopeni (angka thrombosit 100. 000/ mmatau kurang)
  2. Serologi = Uji HI (hemaaglutinaion Inhibition Test)
  3. Rontgen Thorax = Effusi Pleura

F.       Penatalaksanaan Demam Berdarah

a.       Medik
1.    DHF tanpa Renjatan
1.    Beri minum banyak ( 1 ½ - 2 Liter / hari )
2.    Obat antipiretik, untuk menurunkan panas, dapat juga dilakukan kompres
3.    Jika kejang maka dapat diberi luminal ( anticonvulsan ) untuk anak <1 th dosis 50 mg IM dan untuk anak >1th 75 mg IM. Jika 15 menit kejang belum teratasi , beri lagi luminal dengan dosis 3 mg / Kg BB anak <1 th dan pada anak >1th diberikan 5 mg/ Kg BB.
4.    Berikan infus jika terus muntah dan hematokrit meningkat
2.    DHF dengan Renjatan
1.    Pasang infus RL
2.    Jika dengan infus tidak ada respon maka berikan plasma expander ( 20 – 30 ml/ kg BB )
3.    Tranfusi jika Hb dan Ht turun
b.      Keperawatan
1.    Pengawasan tanda – tanda Vital secara kontinue tiap jam
1.    Pemeriksaan Hb, Ht, Trombocyt tiap 4 Jam
2.    Observasi intike - output
3.    Pada pasien DHF derajat I : Pasien diistirahatkan, observasi tanda vital tiap 3 jam , periksa Hb, Ht, Thrombosit tiap 4 jam beri minum 1 ½ liter – 2 liter per hari, beri kompres
4.    Pada pasien DHF derajat II : Pengawasan tanda vital, pemeriksaan Hb, Ht, Thrombocyt, perhatikan gejala seperti nadi lemah, kecil dan cepat, tekanan darah menurun, anuria dan sakit perut, beri infus.
5.    Pada pasien DHF derajat III : Infus guyur, posisi semi fowler, beri O2 pengawasan tanda – tanda vital tiap 15 menit, pasang cateter, observasi produksi urine tiap jam, periksa Hb, Ht dan thrombocyt.
2.    Resiko Perdarahan
1.    Obsevasi perdarahan : Pteckie, Epistaksis, Hematomesis dan melena
2.    Catat banyak, warna dari perdarahan
3.    Pasang NGT pada pasien dengan perdarahan Tractus Gastro Intestinal
3.    Peningkatan suhu tubuh
1.    Observasi / Ukur suhu tubuh secara periodik
2.    Beri minum banyak
3.    Berikan kompres

G.      Asuhan Keperawatan

1.    Pengkajian
1.    Kaji riwayat Keperawatan
2.    Kaji adanya peningkatan suhu tubuh, tanda perdarahan, mual muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hai, nyeri otot dan tanda – tanda renjatan (denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab, terutama pada ekstremitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran)
2.    Diagnosa Keperawatan
1.    Kekurangan Volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler , perdarahan, muntah, dan demam
2.    Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan
3.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan
4.    Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus
5.    Perubahan proses proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak
3.    Implementasi
1.    Mencegah terjadinya kekurangan volume cairan
1.    Mengobservasi tanda – tanda vital paling sedikit setiap 4 jam
2.    Monitor tanda – tanda meningkatnya kekurangan cairan : turgor tidak elastis, ubun – ubun cekung, produksi urine menurun
3.    Mengobservasi dan mencatat intake dan output
4.    Memberikan hidrasi yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh
5.    Memonitor nilai laboratorium : elektrolit / darah, BJ urin , serum tubuh
6.    Mempertahankan intake dan output yang adekuat
7.    Memonitor dan mencatat berat badan
8.    Memonitor pemberian cairan melalui intra vena setiap jam
9.    Mengurangi kehilangan cairan yang tidak telihat (insesible water loss / IWL)
2.    Perfusi jaringan Adekuat
1.    Mengkaji dan mencatat tanda – tanda Vital (kualitas dan Frekwensi denyut nadi, tekanan darah , Capillary Refill )
2.    Mengkaji dan mencatat sirkulasi pada ekstremitas (suhu , kelembaban dan warna)
3.    Menilai kemungkinan terjadinya kematian jaringan pada ekstremitas seperti dingin , nyeri , pembengkakan kaki )
3.    Kebutuhan nutrisi adekuat
1.    Ijinkan anak memakan makanan yang dapat ditoleransi anak. Rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.
2.    Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi
3.    Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi sering
4.    Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama
5.    Mempertahankan kebersihan mulut pasien
6.    Menjelaskan pentingnya intake nutirisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit
4.    Mempertahankan suhu tubuh normal
1.    Ukur tanda – tanda vital suhu tubuh
2.    Ajarkan keluarga dalam pengukuran suhu
3.    Lakukan “ tapid sponge” (seka) dengan air biasa
4.    Tingkatkan intake cairan
5.    Berikan terapi untuk menurunkan suhu
5.    Mensupport koping keluarga Adaptif
1.    Mengkaji perasaan dan persepsi orang tua atau anggota keluarga terhadap situasi yang penuh stress
2.    Ijinkan orang tua dan keluarga untuk memberikan respon secara panjang lebar dan identifikasi faktor yang paling mencemaskan keluarga
3.    Identifikasikan koping yang biasa digunakan dan seberapa besar keberhasilannya dalam mengatasi keadaan




DAFTAR PUSTAKA


  1. Buku ajar IKA infeksi dan penyakit tropis IDAI Edisi I. Editor : Sumarmo, S Purwo Sudomo, Harry Gama, Sri rejeki Bag IKA FKUI jkt 2002.
  2. Christantie, Effendy. SKp, Perawatan Pasien DHF. Jakarta, EGC, 1995
  3. Prinsip – Prinsip Keperawatan Nancy Roper hal 269 – 267